CatatanHarian.id – Dua manusia petasan beraksi pada Lebaran Depok dan sukses mencuri perhatian warga di area Alun-alun Timur, Grand Depok City, Sabtu (09/05/26). Pertunjukan unik tersebut menjadi salah satu hiburan paling mencolok dalam kemeriahan Lebaran Depok tahun ini.
Manusia Petasan dari Komunitas Sanggar Saung Dji’ih Cinere, Feri Arifin, telah menekuni pertunjukan manusia petasan sejak 2019. Baginya, tampil dalam atraksi tersebut bukan perkara nekat semata, melainkan membutuhkan keterampilan khusus.
“Saya sudah dari 2019 menjadi manusia petasan dan juga kita pastinya harus punya skill,” ujar Feri.
Meski sudah berkali-kali tampil, Feri mengaku sudah tidak menghitung lagi jumlah penampilannya.
“Udah lupa berapa kali tampil, banyak pokoknya,” ujar Feri sambil berkelakar.
Sementara itu, manusia petasan lainnya, Aris Yanto mengungkapkan, atraksi manusia petasan merupakan bentuk pengembangan budaya yang dikemas lebih menarik tanpa menghilangkan makna aslinya.
“Jadi manusia petasan itu pilihan. Menurut kami ini salah satu bentuk peningkatan budaya. Selama ini petasan jadi bagian dari perayaan, bahkan dianggap sakral sebagai penanda pembukaan atau penutupan acara. Sekarang bagaimana budaya itu dikembangkan, petasannya tidak lagi digantung, tapi dipegang,” ungkap Aris.
Aris menuturkan, setiap manusia petasan membawa rangkaian petasan sepanjang tiga meter. Atraksi ini rutin dilaksanakan setiap tahun pada Lebaran Depok dan selalu menjadi magnet bagi warga.
Aris menilai, sebagian orang petasan mungkin hanya identik dengan suara bising. Namun dalam budaya Betawi, petasan memiliki makna yang lebih dalam.
“Petasan mungkin buat sebagian orang cuma bikin berisik, tapi buat budaya Betawi, petasan adalah penanda sebuah pembukaan, penutupan dan digelarnya sesuatu yang luar biasa. Petasan enggak boleh hilang dari Betawi, karena ini jadi alat komunikasi yang menyatukan tali silaturahmi semua orang Betawi,” pungkas Aris.








